Saturday, September 20, 2014

(OOT) Welcome to the World My Baby Boy


Alhamdulillah. Satu lagi fase kehidupan kembali dilalui. Pada Hari Jumat tanggal 12 September 2014 pukul 19.05, telah lahir putra pertama kami yang bernama Rasya Muhammad Zhafran. Semoga kelak menjadi anak yang sholeh, berbakti kepada kedua orang tua, dan menjadi orang yang berguna bagi bangsa dan negara. Amiin...

Salam hangat,

Indra dan Syani

Welcome to the World My Baby Boy
Rasya Muhammad Zhafran

Tuesday, September 9, 2014

Singgah di Kota Delft



Ingin tahu cara hemat mengunjungi beberapa kota dalam sehari di Belanda? Beli saja tiket pergi pulang ke kota yang agak jauh. Jika membeli tiket return kereta antar kota di Belanda, kita bisa singgah sejenak di kota-kota yang dilalui kereta. Contohnya untuk rute Amsterdam Centraal-Rotterdam Centraal, kereta akan melalui Leiden, Den Haag, dan Delft. Saya memperoleh informasi ini setelah berkonsultasi dengan petugas NS (operator kereta antar kota di Belanda). Pada saat itu saya ingin mengunjungi Kota Maastricht yang berada di bagian selatan Belanda. Tapi ternyata tiketnya cukup mahal, yakni sekitar 49 Euro untuk perjalanan pergi pulang. Ya wajar saja karena perjalanan menuju Maastricht memakan waktu sekitar 2,5 jam. Jadi saya disarankan untuk mengunjungi Rotterdam saja yang lebih dekat. Waktu perjalanan kereta menuju kota ini hanya satu jam lebih sepuluh menit saja. Dan bisa singgah juga di kota-kota yang dilalui. Harga tiket return pun hanya 29 Euro.

Posting-an kali ini tentang perjalanan saya singgah di Kota Delft. Kota ini terletak tak jauh dari Rotterdam. Dengan kereta, Delft dapat ditempuh dalam 13 menit saja. Sementara dari Amsterdam Centraal memakan waktu hampir 1 jam. Berhubung hanya singgah sebentar saja di kota ini,  saya hanya akan mengunjungi tempat-tempat yang menjadi ikon kota Delft, yakni Oude Kerk (Old Church) dan Nieuwe Kerk (New Church).
Oude Kerk

Thursday, September 4, 2014

Lihat Kincir Angin di Kinderdijk



Selain festival bunga tulip Keukenhof, Belanda juga terkenal akan kincir anginnya. Beberapa waktu yang lalu saya pernah menulis tentang kincir angin di Zaanse Schans. Tempat ini memang merupakan salah satu favorit turis karena letaknya yang dekat dengan Amsterdam. Kunjungan ke Amsterdam rasanya kurang lengkap jika tidak mampir ke Zaanse Schans. Kali ini, saya ingin berbagi cerita tentang kincir angin lagi selain Zaanse Schans. Namanya Kinderdijk. Tidak seperti Zaanse Schans, Kinderdijk terletak agak jauh dari Amsterdam, yakni sedikit di luar kota Rotterdam. Untuk menuju Kinderdijk pun belum ada transportasi langsung. Dari Amsterdam, kita harus naik kereta dulu ke Rotterdam. Kemudian naik metro menuju Stasiun Rotterdam Zuidplein. Dan lanjut naik bus nomor 90 tujan Alblasserdam, turun di Kinderdijk. Tapi saya tidak sempat menaiki transportasi ini karena kebetulan waktu itu pergi bersama keluarga.



Apa yang membuat kincir angin di Kinderdijk menjadi spesial dan layak dikunjungi? Jawabannya karena kincir angin di tempat ini masih asli dan sudah ada sejak abad ke-18. Itulah sebabnya Kinderdijk masuk ke dalam Situs Warisan Dunia UNESCO. Untuk memasuki area kincir angin, kita akan dikenai biaya 6,50 Euro. Jam operasional Kinderdijk dimulai sejak pagi hingga pukul 16.00 atau 17.30 tergantung musim. Tapi jika kita datang setelah berakhirnya jam operasional, ternyata masih tetap diizinkan dan juga gratis.


Kinderdijk

Sunday, August 31, 2014

Terbang dengan Kalstar Aviation ke Batas Negara


Beberapa waktu lalu, saya berkesempatan mengunjungi Nunukan untuk urusan pekerjaan. Nunukan merupakan salah satu kota kecamatan (dari kabupaten dengan nama yang sama) di Provinsi Kalimantan Utara. Letaknya jauh di bagian utara Pulau Kalimantan. Pulau ini berbatasan laut dengan Malaysia. Dari Nunukan, kita bisa menumpang ferry menuju Tawau, Malaysia. Ada delapan jadwal keberangkatan ferry setiap harinya. Tapi kali ini saya nggak akan bercerita tentang salah satu pulau terluar Indonesia ini. Karena padatnya jadwal, saya nggak sempat mengeksplor pulau. Pada kesempatan ini saya ingin berbagi pengalaman terbang dengan Kalstar Aviation. Penerbangan ini boleh dibilang spesial karena banyak hal yang serba pertama bagi saya. Pertama kalinya terbang bersama Kalstar Aviation, pertama kali naik pesawat ATR42-300, dan pertama kalinya naik pesawat cuman sebentar.

Untuk menuju Nunukan, hingga saat ini tidak ada penerbangan langsung dari Jakarta. Ini karena Bandara Nunukan memiliki runway sepanjang 900 meter yang hanya bisa didarati pesawat kecil bermesin propeller. Bandara terdekat yang bisa didarati pesawat bermesin jet adalah Bandara Juwata Tarakan. Maskapai Lion Air melayani penerbangan langsung dari Jakarta menuju Tarakan. Sementara maskapai Garuda Indonesia dan Sriwijaya air melayani penerbangan ke kota ini dengan transit terlebih dahulu di Balikpapan. Di Bandara Nunukan sendiri hingga saat ini, baru ada dua maskapai yang melayani penerbangan, yakni Susi Air dan Kalstar Aviation. Keduanya melayani penerbangan dari dan menuju Tarakan dengan jadwal keberangkatan setiap pagi dan sore.

ATR 42-300 Kalstar Aviation

Monday, August 18, 2014

Wisata Kuliner Penerbangan Turkish Airlines



Ada pemandangan yang tak lazim ketika saya memasuki kabin Airbus A321 Turkish Airlines. Bukan tentang alunan musik khas timur tengah yang diperdengarkan untuk menyambut penumpang. Bukan pula sapaan ramah pramugari Turkish Airlines yang berwajah blasteran Arab dan Eropa. Ini tentang seseorang yang mengenakan pakaian ala Chef di dalam pesawat. Chef tersebut turut menyapa penumpang layaknya kru kabin. Ternyata Turkish Airlines menyediakan Flying Chef pada penerbangannya. Sejenis dengan layanan Chef on Board Garuda Indonesia. Bedanya pada penerbangan Turkish Airlines, Sang Chef juga melayani penumpang kelas ekonomi. Sementara pada penerbangan Boeing 777-300ER Garuda Indonesia baru melayani penumpang first class saja. Tapi saya belum pernah naik first class Garuda Indonesia sih... Jadi belum tahu perbedaan layanan yang diberikan.

Kalau di Turkish Airlines, Chef melayani penumpang tak ubahnya kru kabin pada saat membagikan makanan. Bedanya, Chef memberikan daftar menu terlebih dahulu. Pada penerbangan malam itu dari Amsterdam menuju Istanbul, menu yang disajikan adalah Tas Kebab dan Ayam Panggang. Kebetulan saat itu saya sedang bersama istri. Jadi kami bisa memesan dua makanan berbeda dan bisa saling mencicipi makanan. Sebelum menyajikan makanan, Chef juga akan menanyai penumpang tentang menu yang akan dipilih. Juga disertai penjelasan singkat tentang pilihan menu yang ada. Dan selanjutnya makanan pun disajikan sesuai pilihan. Karena dalam penerbangan tersebut hanya ada satu Chef, tentu tidak mungkin melayani semua penumpang. Jadi dalam menyajikan makanan, Chef tetap dibantu oleh pramugari.

Airbus A321 Turkish Airlines at Istanbul Ataturk Airport