Tuesday, May 5, 2015

Bandara Sultan Hasanuddin Makassar

Aga kareba? Saya baru saja pulang dari Makassar. Sayangnya, perjalanan ini hanyalah tugas kantor sehingga saya tidak sempat berjalan-jalan keliling Makassar. Tapi sebagai pecinta dunia aviasi, saya sudah sangat senang karena bisa naik pesawat. Hehehe...  Dan tulisan kali ini pun nggak jauh-jauh dari dunia aviasi, yakni tentang Bandara Sultan Hasanuddin.

Saya terakhir kali ke bandara ini pada Bulan Juli 2008. Saat itu saya hanya transit sebelum melanjutkan penerbangan ke Jayapura. Nah, waktu itu bangunan terminalnya sangat sederhana dan super penuh seperti di terminal bus. Namun sebulan kemudian, tepatnya pada Bulan Agustus 2008, terminal baru bandara ini mulai beroperasi. Letaknya di sebelah selatan bangunan terminal lama. Dan bangunan terminal berkonsep modern ini pada saat itu menjadi yang pertama dan satu-satunya di Indonesia sebelum kemudian diikuti oleh Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Bandara Kuala Namu, Bandara Sepinggan Balikpapan, Bandara Ngurah Rai Bali, dan Terminal 2 Bandara Juanda.

Bandara Sultan Hasanuddin Makassar

Thursday, April 30, 2015

Ngicipin Ikan Haring di Amsterdam

Sore itu saya dan istri baru saja keluar dari Albert Heijn di samping Magna Plaza Amsterdam. Di depan pintu masuknya, ada kios yang menjual ikan haring. Ikan ini memang banyak disukai penduduk setempat dan merupakan salah satu kuliner yang wajib dicicipi jika sedang berada di Belanda. Harganya cukup murah, tak sampai 5 Euro. Kami jadi tertarik mencobanya. Oleh penjual, satu ekor ikan haring dipotong menjadi dua bagian, kemudian dipotong lagi menjadi empat bagian. Sehingga dalam satu porsi terdiri dari delapan potong. Ikan ini disajikan dengan irisan bawang bombay dan timun. Tampilannya begitu menggugah selera. Saya yang penyuka ikan langsung kalap dan segera memakannya.

Kunyahan pertama dan kedua masih terasa biasa saja. Mungkin lidah saya masih mengirim sinyal rasa kepada otak. Saya pun lanjut mengunyah. Perlahan tapi pasti, mulai terasa juga rasa sebenarnya ikan itu. Otak saya mulai menyadari bahwa ikan itu mentah. Hoeekkkk!!!! Perut saya langsung mual. Saya pun buru-buru menelan ikan itu tanpa dikunyah. Kemudian kelabakan mencari minum dan juga permen untuk menghilangkan rasa amis.



Istri saya dari tadi tertawa melihat tingkah laku saya. Sekarang gantian saya tantangin dia untuk makan. Berbeda dengan saya yang langsung melahap ikannya, Istri saya menaburi dulu daging ikan dengan bawang bombay, kemudian baru memakannya. Dan katanya, rasanya enak. Sama sekali tidak terasa mentah. Saya gantian ditantangin buat makan lagi.

Thursday, March 5, 2015

Menikmati Suasana Volendam

Hari pertama di Belanda, semangat kami sedang tinggi-tingginya untuk berjalan-jalan. Setelah beristirahat sejenak, kami langsung memulai perjalanan. Untuk perjalanan di dalam kota atau yang tidak perlu berpindah home base, kami hanya membawa satu buah daypack, tas kamera dan juga tripod. Saya bertugas membawa daypack dan tas kamera sementara Syani istri saya kebagian membawa tripod dan kamera pocket. Pagi itu, kami akan berkunjung ke Volendam.

Volendam terletak di sebelah utara Amsterdam. Untuk menuju ke sana, kami harus menumpang bus terlebih dahulu dari halte di belakang Stasiun Amsterdam Central. Jadi bukan halte yang terdapat banyak jalur tramnya, melainkan di sisi balik stasiun. Siang itu, tidak banyak turis yang naik bus. Mungkin hanya kami berdua yang turis karena penumpang lainnya tampak seperti penduduk lokal. Bus yang kami tumpangi adalah bus nomor 118 yang tujuan akhirnya Stasiun Purmerend via Volendam. Alternatif lainnya bisa menggunakan bus nomor 110 dengan tujuan yang sama, atau nomor 316 yang memang tujuan akhirnya Volendam. Harga tiket sekali jalan lebih kurang EUR4 dan perjalanan akan memakan waktu sekitar 30 menit. Pembayaran dapat menggunakan OV-Chipkaart atau secara tunai kepada sopir saat naik bus. Di Volendam, halte yang terletak di centrum atau pusat kota Volendam adalah halte Julianaweg atau Zeestraat. Kalau khawatir terlewat, minta tolong saja kepada sopir bus untuk mengingatkan, lalu pilih tempat duduk di bagian depan bus.


Puluhan yacht bersandar di dermaga Volendam

Monday, March 2, 2015

Terbang dengan Malaysia Airlines ke Amsterdam

Ini adalah kali ketiga saya menumpang Malaysia Airlines untuk perjalanan ke Eropa. Saat itu di penghujung tahun 2013, saya bersama istri sudah berada di Bandara Changi Singapura, sebelum melanjutkan perjalanan menuju Amsterdam. Dikarenakan keterbatasan limit kartu kredit, kami memperoleh jadwal yang berbeda untuk penerbangan dari Singapura menuju Kuala Lumpur. Sementara penerbangan dari Kuala Lumpur menuju Amsterdam bisa kembali bersama karena hanya ada satu penerbangan setiap harinya.

Sesuai jadwal, istri saya check in terlebih dahulu. Penerbangan istri ke Kuala Lumpur memang dua jam lebih awal dari saya. Meskipun begitu, saya tetap menemaninya check in. Sekalian saya juga ingin request agar tempat duduk kami berdua pada penerbangan lanjutan ke Amsterdam nanti bisa bersebelahan. Namun di luar dugaan, staf Malaysia Airlines malah menawari saya untuk memajukan jadwal penerbangan saya. Jadi saya bisa terbang bersama istri. Padahal tiket saya promo. Pelayanan Malaysia Airlines memang memuaskan.
Boeing 777-200 Malaysia Airlines at Schipol Airport

Wednesday, January 7, 2015

Selamat Tinggal Tiket Promo

Akhir tahun 2014 lalu dunia penerbangan kembali berduka karena jatuhnya pesawat Air Asia QZ8501 dalam penerbangannya dari Surabaya menuju Singapura. Melalui posting-an ini saya ingin menyampaikan rasa duka yang mendalam kepada seluruh keluarga korban. Selanjutnya saya juga memberikan penghargaan yang tinggi kepada pemerintah atas kecepatan dan dedikasinya dalam mencari korban maupun puing pesawat termasuk black box. Hanya satu hal yang terasa sangat mengganggu, yakni telah ditandatanganinya Peraturan Menteri Perhubungan yang mengatur kebijakan tarif batas bawah minimal 40 persen dari tarif batas atas.

Mungkin saat tulisan ini di-publish, peraturan tersebut belum melalui proses yang membuatnya mulai diberlakukan. Informasi mengenai hal ini baru saya peroleh melalui pernyataan Menteri Perhubungan di media massa. Memang dengan hadirnya era keterbukaan informasi, kita harus selektif dalam mempercayai suatu pemberitaan di media massa. Karena memang banyak bermunculan media yang hanya mengejar sensasi dengan judul yang bombastis namun isinya dangkal atau malah hoax. Namun kali ini, beritanya saya peroleh dari media elektronik terpercaya seperti Detik, CNN Indonesia, dan Kompas. Diberitakan, tarif batas bawah yang diperkenankan yakni 40 persen dari tarif batas atas. Ini artinya, kita tidak akan pernah lagi menemukan tiket promo.
 
Air Asia, Maskapai LCC terbaik dunia