Monday, August 18, 2014

Wisata Kuliner Penerbangan Turkish Airlines



Ada pemandangan yang tak lazim ketika saya memasuki kabin Airbus A321 Turkish Airlines. Bukan tentang alunan musik khas timur tengah yang diperdengarkan untuk menyambut penumpang. Bukan pula sapaan ramah pramugari Turkish Airlines yang berwajah blasteran Arab dan Eropa. Ini tentang seseorang yang mengenakan pakaian ala Chef di dalam pesawat. Chef tersebut turut menyapa penumpang layaknya kru kabin. Ternyata Turkish Airlines menyediakan Flying Chef pada penerbangannya. Sejenis dengan layanan Chef on Board Garuda Indonesia. Bedanya pada penerbangan Turkish Airlines, Sang Chef juga melayani penumpang kelas ekonomi. Sementara pada penerbangan Boeing 777-300ER Garuda Indonesia baru melayani penumpang first class saja. Tapi saya belum pernah naik first class Garuda Indonesia sih... Jadi belum tahu perbedaan layanan yang diberikan.

Kalau di Turkish Airlines, Chef melayani penumpang tak ubahnya kru kabin pada saat membagikan makanan. Bedanya, Chef memberikan daftar menu terlebih dahulu. Pada penerbangan malam itu dari Amsterdam menuju Istanbul, menu yang disajikan adalah Tas Kebab dan Ayam Panggang. Kebetulan saat itu saya sedang bersama istri. Jadi kami bisa memesan dua makanan berbeda dan bisa saling mencicipi makanan. Sebelum menyajikan makanan, Chef juga akan menanyai penumpang tentang menu yang akan dipilih. Juga disertai penjelasan singkat tentang pilihan menu yang ada. Dan selanjutnya makanan pun disajikan sesuai pilihan. Karena dalam penerbangan tersebut hanya ada satu Chef, tentu tidak mungkin melayani semua penumpang. Jadi dalam menyajikan makanan, Chef tetap dibantu oleh pramugari.

Airbus A321 Turkish Airlines at Istanbul Ataturk Airport

Thursday, August 14, 2014

Jalan-jalan ke Fez Maroko



Jika sedang merencanakan perjalanan ke Eropa, tak ada salahnya memasukkan Maroko ke dalam itinerary. Meskipun letaknya di benua Afrika, Maroko sangat mudah dijangkau dari negara-negara Eropa seperti Spanyol, Italia, Prancis, Inggris, Jerman, dan sebagainya. Dan jangan salah, biayanya bisa sangat murah! Ini karena banyaknya rute yang dilayani maskapai low cost seperti Ryanair dan Easyjet. Dan jika sudah berada di Maroko, salah satu kota yang sebaiknya dikunjungi adalah Fez. Kota ini dapat dengan mudah diakses dengan kereta api dari kota-kota besar lainnya seperti Casablanca, Rabat, Marrakesh, dan Tangier. Selain itu, bandara Fez juga melayani penerbangan langsung menuju kota-kota di Eropa. Selain itu, pemegang paspor Indonesia bebas visa untuk memasuki Maroko. Dan tak tanggung-tanggung, jangka waktu kunjungan yang diberikan sampai 3 bulan lamanya.

Obyek wisata utama di Fez adalah medina, atau juga bisa diartikan (bukan secara harafiah) sebagai kota tua. Medina pada umumnya dikelilingi oleh tembok. Di dalamnya berisi pasar, rumah, masjid, sekolah, dan lain-lain sebagaimana kota pada umumnya. Yang membedakan, jalanan di dalam medina relatif sempit sehingga tidak bisa dilalui kendaraan bermotor. Di Fez, keledai menjadi sarana transportasi utama untuk mengangkut barang. Jadi bisa dipastikan bahwa area ini bebas polusi udara karena tidak adanya kendaraan bermotor.

Pemandangan Kota Fez

Friday, August 8, 2014

Pernak-pernik Perjalanan Umroh



Pada posting-an ini, saya ingin sedikit berbagi pengalaman selama melakukan perjalanan ke tanah suci. Bukan pengalaman tentang ritual kegiatan selama di tanah suci tentunya karena sekilas pernah saya tulis di sini. Kali ini tentang hal-hal kecil yang siapa tahu berguna bagi pembaca sekalian.

Pelataran Masjid Nabawi

Pemilihan pesawat
Dalam memilih biro perjalanan umroh, kita sebaiknya tidak mudah termakan iklan. Kalau ada biro yang menawarkan harga jauh di bawah rata-rata, biasanya ada jebakan betmen-nya. Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah pesawat yang digunakan. Untuk menuju Saudi Arabia, pesawat yang paling nyaman hanya Garuda Indonesia dan Saudi Arabian Airlines. Keduanya merupakan maskapai full service dan siap mengantar jemaah menuju Jeddah dengan pesawat Boeing 777-300ER terbaru. Alternatifnya bisa menggunakan Lion Air dan Flynas yang merupakan low cost carrier (LCC). Tapi tenang saja, walaupun hanya sekelas LCC, tetap dapat makanan kok. Masak iya terbang 10 jam nggak dikasih makanan? Hehehe... Keempat maskapai di atas memiliki kelebihan yang tidak dimiliki maskapai lain, yakni penerbangan langsung dari Indonesia menuju Saudi Arabia.

Wednesday, August 6, 2014

Melihat Asia dan Eropa di Selat Bosphorus



Ada satu kegiatan yang sebaiknya tidak dilewatkan ketika kita mengunjungi Istanbul, yakni menyusuri Selat Bosphorus dengan kapal. Istilah populernya “Bosphorus Cruise”. Seperti yang kita tahu, selat ini menghubungkan Benua Asia dan Eropa. Kota Istanbul memang terletak di kedua benua tersebut. Dan menyusuri selat tersebut akan menjadi pengalaman yang sangat mengesankan. Operator yang menawarkan cruise ini sendiri ada beberapa. Tarifnya bervariasi antara 10-20 Lira untuk tur mandiri. Maksudnya operator hanya menyediakan jasa angkutan kapal. Sementara kalau sewa boat eksklusif dengan tour guide, tentunya lebih mahal lagi. Lama perjalanan juga bervariasi. Ada yang hanya 1,5 jam tanpa mampir, ada juga yang 5,5 jam dengan mampir ke beberapa tempat.

Untuk membeli tiket, sebenarnya cukup banyak penjualnya dan tersebar di tempat-tempat turistik Istanbul, terutama di Sultanahmet. Namun tarifnya cukup mahal. Saya memilih untuk datang langsung ke dermaga Eminonu dan melihat serta membandingkan tarifnya terlebih dahulu. Dan pilihan saya jatuh pada “Bosphorus Tour” yang dioperasikan oleh Turyol. Harganya cukup murah, yakni 12 Lira atau sekitar 60 ribu Rupiah untuk perjalanan selama 1,5 jam. Interval keberangkatan kapal cukup sering, yakni hampir setiap jam sejak pukul 10 pagi hingga pukul 9 malam. Saya sendiri memilih perjalanan sore hari agar bisa mendapatkan landscape matahari terbenam dari atas kapal. Pilihan waktu untuk mendapatkan sunset tentunya berbeda-beda bergantung pada musim. Saat itu saya berpergian pada awal musim gugur (Bulan September) dan waktu keberangkatan yang cocok adalah pukul 16.30.


Jembatan Bosphorus di kala senja

Sunday, August 3, 2014

Tips Traveling dengan Orang Tua

Sayangilah dan berbaktilah kepada orang tuamu selagi masih ada kesempatan. Rasanya tidak ada kebahagiaan yang lebih tinggi selain melihat wajah bahagia orang tua kita. Dan wajah bahagia Ibunda pernah saya lihat, salah satunya ketika saya ajak jalan-jalan. Posting-an kali ini khususnya ditujukan untuk para backpacker yang sering atau sedang merencanakan perjalanan dengan orang tua. Melakukan perjalanan bersama orang tua tentu tidak bisa disamakan dengan jalan-jalan sendiri. Ada beberapa hal yang harus dipersiapkan dan juga disesuaikan agar perjalanan bisa terlaksana dengan baik. Saya sendiri Alhamdulillah telah berkesempatan mengajak Ibu saya ke Singapura, Malaysia, Hongkong, dan Macau. Mudah-mudahan selanjutnya saya diberi kesempatan mengajak Beliau beribadah ke tanah suci. Amiinnn... Berikut ini tips traveling dengan orang tua versi indratravelholic.
 
Saya dan Ibunda di Hongkong

Rencanakan Perjalanan
Bagi para backpacker atau pejalan mandiri, tentunya menyusun itinerary bukanlah hal asing. Tapi kali ini, sebaiknya itinerary disusun secara detail dan disesuaikan dengan minat orang tua. Contohnya ketika mengajak Ibu pergi ke Singapura, tentunya saya harus meletakkan Orchard Road pada prioritas pertama karena ibu-ibu biasanya suka belanja dan window shopping. Sementara Universal Studio mungkin bisa di-skip saja karena hanya sedikit wahana yang bisa dinikmati orang tua pada umumnya.